Oleh : Muh. Azwar Arham
Hari cerah, panas terik, satu jam menjelang masuknya waktu
sholat Ashar saya mulai bersiap berangkat, Dengan siapa? kemana? dan untuk
apa?, ok saya ceritakan disini, saya dan sahabat satu perantauan sekaligus
teman seperjuangan, bahkan satu almamater kampus dan satu kontrakan dengan
saya, namanya Zakiyuddin, di tulisan ini kita panggil dia Zaky saja, seorang
berdarah bugis yang sempat hidup di tanah kupang dikarenakan juga memiliki
keturunan orang kupang. Oke sepertinya terlalu panjang kalau saya bercerita
tentang riwayat hidupnya karena disini saya tidak menulis tentang riwayat
hidup. Nah pertanyaan selanjutnya kemana? Oke, saya dan Zaky mau berangkat ke
Pamulang, kenapa di Pamulang? Karena di Pamulang adalah tempat Zaky mengajar,
mengajar apa? Zaky mengajar pada salah satu TPA diperumahan Reni Jaya. Disitulah
nanti saya akan melakukan sebuah pengamatan sedikit tentang dunia pendidikan. Menurut
zaky, mengajar bukan bukan sebagai beban, namu menurut dia mengajar adalah hobi
yang sekaligus dijadikannya sebagai wujud pengabdian.
“jadi saya selain hobi menggambar, saya juga suka
mengajarkan apa yang saya ketahui kepada orang lain. Seperti ini misalnya, setiap
hari senin-juma’at menjelang shalat Ashar saya berangkatlah ke Pamulang,
biasanya saya targetkan shalat Ashar berjamaah di masjid TPA itu. Sebelum saya
sampai ke tempat mengajar, biasanya saya mampir dulu di rumah teman yang
kebetulan memang sekarang tinggal di perumahan Pamulang Elok yang lokasinya memang
tidak jauh dari tempat saya mengajar. Biasanya saya mampir hanya untuk sekedar
istirahat karena capek setelah perjalan yang lumayan jauh dari Lebak Bulus ke
Pamulang,” ujarnya.
“Bagi saya sungguh merupakan suatu perbuatan sayang begitu
luar biasa karena bisa ikut serta menunaikan tugas mulia mendidik dan
mengajarkan adik-adik TPA tentang Al-Qur’an. Yang mana kelak suatu saat nanti
adik-adik itu adalah calon generasi penerus bangsa, dan mereka yang akan
mengisi catatan sejarah sebagai generasi yang berkontribusi bagi keluarga,
masyarakat dan negara”. Ujarnya lagi, menjawab pertanyaan saya tentang apa yang
menjadi landasan dia sehingga begitu semangat mengajar.
Setelah mendengar jawabannya itu, saya menjadi termotivasi
untuk ikut serta menjadi pengajar sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat,
apalagi saya adalah satu mahasiswa yang kuliah di kampus PTIQ, dimana kampus itu
terkenal karena keunggulan dibidang Al-qur’annya. Ini lah saya merasa
tertantang dan seperti di tuntut untuk ikut berkontribusi dalam mengabdi ke
masyarakat, bangsa dan negara.
Oh iyah, saya hampir lupa menyebutkan nama TPA tempat Zaky
mengajar, TPA itu namanya Al-Furqon, terletak di perumahan Reni Jaya, Pamulang.
Mulailah saya berangkat dari rumah teman yang di Pamulang
Elok ini menuju ke TPA Al-Furqon. Sampai di masjid kami ikut sholat berjamaah
dulu, setelah itu kami langsung di sambut oleh murid-murid yang siap diajar
mengaji.
Sebelum mulai mengajar, murid-murid dikumpulkan dulu oleh
ustadz-ustadznya, mereka disuruh membentuk lingkaran dan dipisah antara
laki-laki dan perempuan. Pertama ustadznya menyuruh untuk membaca doa-doa yang
telah diajarkan sebelumnya. Biasanya mereka disuruh membaca doa-doa seperti doa
sebelum belajar, serta di suruh membaca bersama beberapa ayat-ayat pilihan.
Setelah membaca doa
dan beberapa ayat pilihan, para murid atau biasanya dipanggil dengan santri
atau santriwati membentuk barisan dengan duduk rapi, mereka melakukan antri
satu persatu maju untuk menyetorkan hafalannya. Terkadang ada santri yang
mencoba ingin mendahului teman-temannya untuk lebih dulu menyetorkan hafalan
Al-Qur’annya, “Antri”, ucap Zaky dengan nada sedikit keras untuk menanamkan
sifat disiplin kepada para santri.
Setelah melihat perjuangan teman saya mengajar Al-Qur’an,
mulai dari dia setelah pulang kuliah langsung bersiap-siap berangkat menuju TPA
tempat dia mengajar, meski melalui panas yang terik namun dengan semangat yang
tinggi untuk mengabdi kepada masyarakat membuat dia tidak pantang menyerah. Ini
semua membuat saya sadar bahwa kita harus punya pengabdian dan kontribusi
kepada masyarakat, bangsa dan negara.
cukup disini dulu sedikit cerita saya tentang pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
0 komentar:
Post a Comment